Kakanwil : Pelajaran Agama Jangan Menjadi Beban Bagi Siswa

Minggu, 17 September 2017 | 11:02       Dibaca 157 kali

Kakanwil Saifi Menutup Sosialisasi Kurikulum Sekolah Minggu Buddha di Balikpapan

Balikpapan (Inmas-Kwl) – Dalam mengajar seorang guru harus memiliki metode mengajar yang baik dan tepat sasaran, juga bahasa atau cara penyampaiannya kepada siswa harus sesuai seperti melihat usia siswa yang diajar.

Hal ini disampaikan Kepala Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) Saifi pada penutupan Sosialisasi Kurikulum Sekolah Minggu Buddha se Kaltim Tahun 2017 di grand tjokro hotel Balikpapan (17/9).

Guru mengajar harus menguasai kelas, lihat usia siswanya berapa, apakah dia masih kanak-kanak atau sudah remaja, ujar Kakanwil.

Dicontohkan Kakanwil, jika siswa usia kanak-kanak, misal guru bercerita tentang binatang monyet atau orang hutan, maka guru juga menirukan gaya binantang itu, dengan itu siswa tertarik untuk menyimak pelajaran yang diberikan, yang disambut tawa peserta.

Dengan seperti itu, maka guru akan lebih mudah menyampaikan materi mengajarnya, sesuai dengan target tujuan dari mengajar pada saat itu.

Kakanwil menekankan kepada 28 guru sekolah minggu Buddha, agar “ pelajaran agama jangan menjadi beban bagi siswa “.

Pelajaran agama juga tidak menjadikan sesuatu yang sulit bagi siswa, karenanya setiap guru agar memahami dan mempedomani kurikulum sekolah minggu ini yang sudah ditetapkan oleh Dirjen Bimas Buddha Kementerian Agama, untuk dijabarkan dalam perangkat mengajar yang dibuat sedemikian rupa mudah, sistematik, menyenangkan dan efektif.

Manfaat utama yang ingin dicapai adalah meningkatkan keimanan dalam beragama, pempererat persatuan dan kesatuan untuk kepentingan masyarakat, bangsa dan negara, terangnya.

Berkaitan dengan bangsa dan negara, mantan Kepala Kankemenag Kota Balikpapan ini meminta guru disemua agama agar mengajarkan kepada para siswa tentang pentingnya bernegara.

Melalui pendidikan agama, ajarkan dengan siswa tentang empat pilar kebangsaan kita, pertama pancasila, kedua bhineka tunggal ika yang menjadi sesuatu yang membanggakan walau berbeda suku dan agama.

Ketiga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan keempat Undang-Undang Dasar 1945, maka jangan ada dengan mengajar pelajaran agama untuk melonggarkan terhadap pilar kebangsaan, tegasnya.

Kakanwil atas nama pemerintah berharap agama (semua agama) di Indonesia ini menjadi menopang pilar kebangsaan, dan berterima kasih kepada guru agama karena itu merupakan dukungan kepada pemerintah terkhusus kepada kementerian agama.

Untuk tahun 2018, kegiatan semacam ini pinta Kakanwil agar tetap dilaksanakan dengan materi dan memperbanyak praktek untuk keperluan guru mengajar.

Mendampingi Kakanwil pada acara yang telah digelar sejak tanggal 15 september 2017 (2 hari lalu), Pembimbing Masyarakat Buddha Kanwil Kemenag Kaltim Maryono, Ketua Panitia Widyasati Muryananda staf Bimas Buddha Kanwil Kemenag Kaltim. (rd)