Dialog Pelita Samarinda, Kakanwil: Jaga Ukhuwan Basyariyah dan Wathaniyah

Rabu, 15 November 2017 | 11:11       Dibaca 36 kali

Kakanwil Kemenag Kaltim H. Saifi Menjadi Narasumber pada Dialog Pelita Kota Samarinda, Rabu (15/11). (Foto: Nop)

Samarinda (Inmas Kwl) - Kantor Kementerian Agama Kota Samarinda laksanakan Dialog Pemuda Lintas Agama (Pelita) se-Kota Samarinda, Rabu (15/11). Bertempat di Aula PSBB MAN 2 Samarinda dialog ini dihadiri 50 peserta perwakilan dari organisasi keagamaan seperti GP Anshor, Pemuda Muhammadiyah, pemuda dari agama Islam, Kristen, Hindu, Buddha dan Khonghucu.

Kakanwil Kemenag Kaltim H. Saifi pada kesempatan ini menjadi narasumber dan menyampaikan materi Strategi Kebijakan Kementerian Agama Dalam Kerukunan Umat Beragama. Kakanwil mengawali dengan menyampaikan harapan bahwa Pelita dapat membantu program-program FKUB. Dan forum ini adalah untuk menyatukan umat beragama bukan untuk menyatukan agama.

Lebih lanjut Ia sampaikan bahwa ada tiga macam persaudaraan. Pertama adalah saudara satu agama, dalam Islam disebut sebagai ukhuwah Islamiyah. Kedua adalah saudara atas nama kemanusiaan, yaitu ukhuwah basyariyah, dan ketiga adalah saudara atas nama kebangsaan atau ukhuwah wathaniyah. Diantara persaudaraan ini dua dapat disatukan, yaitu ukhuwah basyariyah dan ukhuwah wathaniyah.

"Dua ini wajib kita jaga dengan baik. Jika kita dapat rawat dengan baik maka kehidupan kita dalam menjalankan agama masing-masing akan jauh lebih baik. inilah yang menjadi fundamental dalam berorganisasi, terutama yang bergabung dalam Pelita." Jelasnya.

"Indonesia adalah negara yang penduduknya majemuk, dari segi suku, budaya dan agama. dengan pulau 13 ribu pulau. Dari segi suku kita juga sangat beragam. Untuk Kalimantan Timur saja ada banyak sekali suku sehingga bisa dikatakan bahwa Kalimantan Timur ini adalah miniatur Indonesia. Agama juga banyak, meski yang diakui hanya 6 agama. Ini yang melatarbelakangi situasi dan kondisi yang ada di Indonesia." Lanjut Kakanwil.

Dijelaskan pula bahwa Pemerintah bertanggungjawab untuk merawat 6 agama yang diakui, oleh karena itulah adanya Departemen Agama atau Kementerian Agama sekarang. Didalamnya mengelola semua agama. Dalam paparannya Kakanwil juga menyampaikan apa saja yang menjadi faktor-faktor keagamaan dan non keagamaan yang dapat menimbulkan konflik serta rumusan strategi bagaimana meningkatkan kualitas kerukunan umat beragama, diantaranya adalah pemberdayaan FKUB.

Sebagai penutup beliau katakan bahwa kualitas kerukunan umat beragama di Kalimantan Timur menjadi tanggung jawab bersama, yaitu pemerintah, Ormas Keagamaan dan masyarakat. (Nop)