Ka.Kemenag : Guru PAI Harus Punya Referensi Keilmuan Cukup

Jumat, 12 Januari 2018 | 14:56       Dibaca 133 kali


Penajam Paser Utara (Inmas) - Seksi Pendidikan Agama dan Keagamaan Islam (Pakis) Kantor Kementerian Agama Kabupaten Penajam Paser Utara melaksanakan rapat pertemuan membahas persiapan menghadapi UASBN PAI bersama dengan pengawas PAI, Kelompok Kerja Guru, dan Musyawarah Guru Mata Pelajaran, Jum'at, (12/1/18) pagi bertempat di Sekretariat FKUB.

Hj. Jumaisyah Kasi Pakis memimpin jalannya rapat mengungkapkan, pertemuan hari ini akan membicarakan persiapan materi UASBN khusus mata Pelajaran Agama Islam.

Lanjut HJ. Jumaisah, UASBN PAI adalah kegiatan pengukuran pencapaian kompetensi siswa yang dilakukan sekolah untuk mata pelajaran tertentu yakni Pendidikan Agama Islam, baik SD, SMP, SMA/SMK dengan mengacu kepada standar kompetensi kelulusan untuk memperoleh pengakuan atas prestasi belajar siswa.

Telah dikirimkannya kisi-kisi PAI adalah sebagai acuan untuk mengembangkan dan merakit soal-soal yang disusun berdasarkan kriteria pencapaian standar kompetensi siswa, ucap Kasi Pakis.

Kakankemenag H. Maslekhan dalam arahannya menyebutkan dengan adanya surat yang telah diterima Kemenag terkait penyusunan soal yang terpusat di Kanwil. Tentunya nanti ada beberapa orang yang diminta untuk mengikuti kegiatan sebelum penyusunan soal. Namun, begitu, seyogyanya yang diundang diminta untuk menyusun soal tersebut perlu juga manambah wawasan keilmuan.

Kakankemenag juga mengatakan apakah penyusunan itu ada pendalaman atau hanya sekedar melihat praktek yang dilakukan anak-anak. Misalkan ada pendalaman, mengapa seperti ini dan itu, "jadi anak nantinya bisa memberikan jawaban yang tepat." ungkap kepala kantor.

Jika kita guru PAI mempunyai referensi yang mencukupi, dan anak-anak melaksanakannya, tentunya kita sudah bisa menebak jawabannya. Ia mencontohkan seperti praktek memandikan jenazah, memasukkan ke liang lahat, dan sebagainya.

Beliau juga sampaikan, saat ujian madrasah aliyah beberapa waktu lalu, ada materi-materi yang barangkali sedikit mengganggu kelancaranan ujian dan keharmonisan antar sesama, sehingga soal sempat ditarik dan kemudian dimusnahkan karena adanya materi uji yang tidak sesuai. Ia berharap sebagai guru agama menyampaikan kepada anak-anak SMA/SMK, karena mereka sedang mencari jati diri, jadi berilah pemahaman yang sesuai dengan hukum agama dan hukum negara kita, pinta Kakankemenag mengakhiri arahannya. (basz)