Sekjen Kemenag RI uraikan Konfigurasi Ilmu dan Amal di MAN IC Paser

Senin, 11 Pebruari 2019 | 12:39       Dibaca 192 kali


Paser (inmas – kwl). Pada peresmian Laboratorium Saintek, Perpustakaan, dan PTSP MAN IC Paser Sekretaris Jenderal Kementerian Agama RI Bapak Nur Cholis Setiawan menguraikan konfigurasi ilmu dan amaliah, Sabtu, (9/2).

Bapak Nur Cholis menjelaskan pernyataan ulama sufi Syeikh Abul Hasan Ali bin Abdullah bin Abdul Jabbar Asy Syadzili yang mengatakan bahwa meskipun thoriqot berbagai macam bentuknya, semuanya akan kembali kepada 2 sumber yaitu ilmu dan amal.

Bapak Nur Cholis menggambarkan perbedaan era sekarang dengan era sebelumnya. Menurutnya “Orang tua kita jauh berbeda dengan anak-anak kita, kemampuan berselayarnya di dunia teknologi informasi jauh lebih berpengalaman dan lebih mampu dibandng orang terdahulu dahulu,” katanya.

Kalau orang tua menggunakan HP hanya untuk menelpon, sms, chatting whatshap. Meskipun HP yang dimilikinya canggih, smartphone. “Tetapi yang smart HP nya doang,” ucap profesor tersebut.

Karenanya, Nur Cholis menyarankan, orang tua tidak boleh memaksakan pendidikan anak sekarang mengikuti dengan alam kita. “Pendidikan selalu dinamis, pendidika terdorong sesuai zaman,” jelasnya.

Terkait dengan sarana dan prasarana harus terus direalisasikan karena erat keterkaitannya dengan keberhasilan capaian ilmu pengetahuan.

Ilmu pengetahuan berbicara logika, kemudian sarana dan prasarana berbicara logistik, ucapnya.

Pengadaan Laboratorium Sain dan Teknologi, Gedung Perpustakaan, Masjid Darul Falah, serta Gedung Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) merupakan sarana yang menjadi pelantara untuk menggapai ilmu pengetahuan.

Wasilah untuk mencapai logika. “Kita meresmikan wasilah,” kata Bapak Nur Cholis.

Anak-anak kita belajar tidak hanya belajar melalui guru, tetapi juga melalui musik serta melalui game yang dapat diakses dengan internet. Karena itu perlu diberikan wasilah agar mereka dapat mengakses belajar.

“Anak-anak kalau dikondisikan dengan lingkungan yang mendukung disertai doa yang betul-betul berharap maka akan menghasilkan yang luar biasa,” ungkap Bapak Nur Cholis.

Selain memperbanyak fasilitas, Madarasah MAN IC diminta untuk tetap mempertahankan tradisi. Diantara tradisi yang dipertahankan yaitu memiliki tradisi keilmuan, amaliah, dan akhlaq, yang melahirkan seperti ajaran sufi Asy Syadiliyah yaitu mempertemukan konfigurasi ilmu dan amal.

Ilmu ada kalanya terambil dari syariat atau atau diluar syariat. Bisa dari teksbook, tetapi tidak boleh berhenti hanya pada teksbook, karena ada lingkungan sekitar, dan alam lingkungan yang bisa menjadi bahan untuk tadabbur sebagai bahan sarana belajar.

Termasuk mempertahankan tradisi, Sekjen mengingatkan, agar lima mata pelajaran wajib dipelajari oleh anak didik. Yaitu Quran Hadits, Fiqh beserta Ushul Fiqh, Aqidatul Akhlaq, dan Sejarah Kebudayaan Islam.

Mempelajari al Quran dan hadits menjadi wajib karena menjadi sumber bagi umat Islam. Kemudian mempelajari fqih dan ushul fiqh sebagai wujud nalar dan pemikiran agar berkembang kreatif.

Pelajaran Fiqh tidak bleh sendirian, tetapi harus ada ada pelajaran aqidah akhlaq sebagai kontrol agal melahirkan ketawadluan tidak sombong dan beretika yang baik.

Pelajaran moralits dibutuhkan contoh dari sejarah. Bapak Nur Cholis merasa miris karena melihat anak sekarang yang tidak tahu para tokoh sejarah. Ketika saya tanyakan nama Akhmad Dahlan tokoh Pendiri Muhammadiyah atau Wahid Hasyim tokoh pendiri Organisasi NU yang mereka tunjuk adalah nama jalan.

Karenanya diharapkan dari rahim madrasah melahirkan orang-orang pinter yang bener bukan menghasilkan orang pinter tapi keblinger, ucapn Sekjen Nur Cholis di MAN IC Paser yang dihadiri Kakanwil Kemenag Kaltim, Rektor IAIN Samarinda serta Asisten Pemkab dan Forkompinda Paser. (sim).