KaKanwil hingga siswa Gelar Shalat Ghaib untuk Mbah Moen

Rabu, 07 Agustus 2019 | 13:46       Dibaca 246 kali

KaKanwil hingga siswa Gelar Shalat Ghaib untuk Mbah Moen

Samarinda (Inmas Kwl), rabu (7/8) - Sehubungan wafatnya KH Maimoen Zubair di Makkah, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menginstruksikan seluruh petugas haji di tiap sektor dan Kanwil Kemenag Provinsi se Indonesia untuk menggelar salat gaib. Berdasarkan instruksi tersebut, jajaran Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Timur melaksanakan sholat gaib di Masjid Al Jihad Komplek MAN 2 Samarinda, seusai sholat Zuhur.

Ratusan jamaah mengikuti Shalat Ghaib di Masjid Al-Jihad komplek MAN 2 Samarinda. Shalat ghaib digelar untuk almarhum KH Maimun Zubair atau Mbah Moen yang wafat saat menunaikan ibadah haji di Makkah Arab Saudi, Selasa pagi. Shalat ghaib di masjid Al-Jihad digelar usai Shalat Zuhur berjamaah. Turut serta dalam Shalat Ghaib, Kakanwil Kemenag Kaltim, H. Sofyan Noor, Kabid dan dan Kasi, para pegawai baik di tingkat Kanwil Kementrian Agama Provinsi dan Kemenag Kota Samarinda,  guru-guru serta siswa-siswi MAN 2 Samarinda. Usai shalat ghaib, jamaah juga membaca surah yasin dan tahlil.

KH Maimoen Zubair merupakan sosok yang gigih untuk memperjuangkan nilai-nilai keislaman dan ke-Indonesia-an. Salah satu upaya penting yang dilakukan oleh KH Maimoen Zubair adalah menegaskan bahwa kemerdekaan bangsa Indonesia merupakan sebuah anugerah yang diberikan oleh Allah Swt atas perjuangan yang penuh dengan kesungguhan dan menghapuskan penjajahan.

KH Maimun Zubair atau Mbah Moen lahir di Rembang, Jawa Tengah, 28 Oktober 1928 dan wafat pada 6 Agustus 2019 di Mekkah, Arab Saudi. Selain sebagai pimpinan Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang, Rembang, Mbah Moen juga dikenal sebagai ketua majelis syariah Partai Persatuan Pembangunan.

Pendidikan Mbah Moen dimulai di Pesantren Lirboyo, Kediri. Lalu melanjutkan pendidikan di Mekkah, Arab Saudi berguru pada Syaikh Saíd Al-Yamani serta Syaikh Hasan Al-Yamani Al-Makky. Karya Mbah Moen yang banyak dipakai di pesantren berupa kitab berjudul Al-Ulama Al-Mujaddidun.(iks)