Deklarasi Sekolah Ramah Anak (SRA) di MTsN 2 PPU

Jumat, 08 November 2019 | 08:49       Dibaca 72 kali


Penajam Paser Utara (Inmas) - Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 2 Penajam Paser Utara resmi mendeklarasikan diri sebagai Sekolah Ramah Anak (SRA), Kamis (7/11). Deklarasi yang digelar di dalam ruang pertemuan MTsN 2, selain siswa MTsN 2 diikuti juga siswa MI Al-Ikhlas Waru dan seluruh guru, serta karyawan.

Kepala MTsN 2 PPU M. Tauwab melaporkan, deklarasi ini sengaja digabung bersama MI Al-Ikhlas agar bisa bersinergi karena mempunyai komitmen yang sama untuk menjadi sekolah yang ramah anak. Sekolah yang menyayangi anak-anaknya seperti menyayangi anak sendiri. Dimana guru harus memperlakukan siswa layaknya anak sendiri dirumah. "Jadi murid kita adalah anak kita sendiri, ini visi kita dalam sekolah ramah anak," ungkap Tauwab.

Lanjut Tauwab, tujuan dari SRA adalah untuk melindungi anak kita dari segala bentuk kekerasan, baik fisik maupun seksual dan kekerasan lainnya. Tauwab berharap dengan deklarasi tersebut, madrasah kedepannya semakin bagus, semakin hebat dan bermartabat.

SRA dirintis dan dimulai sekira dua bulan lalu sambung kepala MTsN 2, setelah pihak madrasah mengikuti pelatihan SRA yang diadakan oleh DP3AP2KB. Setelahnya madrasah berkomitmen untuk dapat melaksanakan agenda sekolah ramah anak. Sebelumnya jelas Tauwab, pagi telah dimulai OCD, yakni belajar sehari diluar kelas. Kegiatan diisi dengan menyambut siswa yang tiba disekolah dengan 3 S (senyum, salam dan sapa). Senam dan makan bareng bersama guru juga menjadi bagian dari SRA bertujuan untuk lebih mendekatkan siswa dengan guru.

Acara deklarasi dihadiri Kepala Kantor Kementerian Agama Kab. Penajam Paser Utara Drs. H. Maslekhan. Hadir pula Kepala DP3AP2KB Ir. Riviana Noor beserta jajaran menyaksikan langsung deklarasi, pimpinan BSM, Kepala KUA Kec. Waru, dan Komite Madrasah.

Kepala Kantor Kemenag PPU H. Maslekhan dalam sambutannya mengharapkan dukungan semuanya dari guru maupun murid, untuk mewujudkan sekolah ramah anak ini," ujarnya. Untuk tercipta sekolah ramah anak tentunya harus ada komunikasi timbal balik, tambahnya.

Lanjut kepala kantor, untuk mendapatkan ilmu yang berkah ada enam syarat yang diperlukan, diantaranya menghormati guru. Karenanya siswa harus hormati gurunya, dirinya yakin bahwasanya guru itu lebih menyayangi siswanya ketimbang anaknya. Kepala juga berharap setelah deklarasi ini semua sebagai pendidik harus melayani anak-anak seperti anak sendiri, jadi kita harus jadi orangtua anak-anak disekolah. "Jadikan sekolah tempat ternyaman bagi anak," pungkasnya.

Sementara Kepala DP3AP2KB Kab. PPU Ir. Riviana Noor mengatakan SRA tersebut dalam rangka menyongsong hari anak nasional, kegiatan ini dilakukan serentak secara nasional tanggal 7 Nopember 2019. Kegiatan sama juga dilaksanakan di MTsN 1 PPU dan SMPN 5 PPU. Dirinya berharap tahun depan OCD dapat diikuti peserta lebih banyak lagi.

Lanjut Riviana, SRA ini terkait bagaimana Pemkab PPU memberikan perlindungan kepada anak, ada hak anak yang perlu diberikan seperti tumbuh kembang, dan berpartisipasi, anak miliki hak sama dengan orang dewasa. "Mudah-mudahan kita sudah bisa tetapkan MTsN 2 PPU sebagai sekolah ramah anak tahun 2020, dan bisa menjadi percontohan bagi sekolah lain," ucapnya.

Sebelumnya juga telah dilakukan sosialisasi pencegahan dan perlindungan kekerasan, hal tersebut gencar dilakukan, karena tahun ini kekerasan terhadap anak sering terjadi. Anak yang berhadapan dengan hukum juga masih sering terjadi seperti kasus lakalantas.

Mudahan MTsN 2 dapat membawa nama baik, khususnya sekolah yang berbasis keagamaan sehingga mendapatkan kepercayaan masyarakat untuk menitipkan anaknya pada satuan pendidikan berbasis agama, ungkap Riviana. Pendidikan agama kepada anak menjadi hal yang sangat penting, dan beliau sependapat dengan apa yang dikatakan Kepala Kemenag terkait sekolah berbasis agama.

Deklarasi dipimpin Kepala MTsN 2 PPU H.M. Tauwab yang diikuti seluruh guru, karyawan, dan juga para siswa. Begitupun MI Al-Ikhlas deklarasi dipimpin Kepala MI Sudarmi yang diikuti seluruh guru dan siswa. (basz)