Spiritual Puasa dan Kinerja Kementerian Agama

Monday, 24 Oct 2016, 03:53       Dibaca 296 kali


 


Mengacu pada teori motivasi yang dikemukakan Maslow, kecerdasan spiritual terkait dengan aktualisasi diri atau pemenuhan tujuan hidup yang merupakan tingkatan motivasi yang tertinggi. Kecerdasan spiritual yang tinggi ditandai dengan adanya pertumbuhan dan transformasi pada diri seseorang, tercapainya kehidupan yang berimbang antara karier/pekerjaan dan pribadi/keluarga, serta adanya perasaan suka cita serta puas yang diwujudkan dalam bentuk menghasilkan kontribusi yang positif dan berbagi kebahagiaan kepada lingkungan.


Kita mengenal istilah Spiritual Question (SQ), walaupun ia mengandung kata spiritual, tetapi tidak selalu terkait dengan kepercayaan atau agama. SQ lebih kepada kebutuhan dan kemampuan manusia untuk menemukan arti dan menghasilkan nilai melalui pengalaman yang mereka hadapi. Akan tetapi, beberapa penelitian menunjukkan bahwa seseorang yang memiliki kepercayaan atau menjalankan agama,umumnya memiliki tingkat kecerdasan spiritual yang lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang tidak memiliki kepercayaan atau tidak menjalankan agama.


Seperti penelitian yang dilakukan Harold G. Koenig dan kawan-kawan yang telah dipublikasikan Oxford University Press dalam bentuk buku berjudul Handbook of Religion and Health. Penelitian yang mereka lakukan menemukan bahwa setiap tingkatan pendidikan dan usia, orang yang pergi ke rumah ibadah, berdoa dan membaca kitab suci secara rutin, ternyata hidup lebih lama sekitar tujuh hingga 14 tahun dan memiliki kesehatan fisik lebih baik dibandingkan orang yang tidak menjalankan ritual keagamaan.


Karyawan dengan SQ yang tinggi biasanya akan lebih cepat mengalami pemulihan dari suatu penyakit, baik secara fisik maupun mental. Ia lebih mudah bangkit dari suatu kejatuhan atau penderitaan, lebih tahan menghadapi stres, lebih mudah melihat peluang karena memiliki sikap mental positif serta lebih ceria, bahagia dan merasa puas dalam menjalani kehidupan. Bukankah keberhasilan dalam hal karier, pekerjaan, penghasilan, status dan masih banyak lagi hal-hal yang bersifat materi ternyata tidak selalu mampu membuat orang bahagia. Persaingan dan perbedaan kepentingan yang berlangsung begitu ketat sering kali membuat manusia kehilangan arah dan identitas. Sering-sering orang menjadi limbung dalam menjalani visi dan misi hidupnya. Kita bahkan lupa melakukan refleksi diri dan lupa menjalankan peran kita sebagai bagian dari komunitas social dalam hal ini tentu adalah komunitas Kementerian Agama dan masyarakat luas (Transnasional),


Manusia memiliki pikiran dan roh, ingin mencari arti dan tujuan, berhubungan dengan orang lain dan menjadi bagian dari komunitas. Oleh karenanya organisasi perlu membentuk budaya spiritualitas di lingkungan kerja.


Organisasi yang bersifat spiritual membantu karyawannya untuk mengembangkan dan mencapai potensi penuh dari dirinya (aktualisasi diri). Robbins & Judge dalam bukunya yang berjudul Organizational Behavior menyebutkan budaya spiritualitas yang perlu dibentuk adalah:


Strong sense of purpose. Meskipun pencapaian keuntungan itu penting, tetapi hal itu tidak menjadi nilai utama dari suatu organisasi dengan budaya spiritual. Karyawan membutuhkan adanya tujuan organisasi yang lebih bernilai, yang biasanya dinyatakan dalam bentuk visi dan misi organisasi, bahkan lebih dari itu.


Trust and respect. Organisasi dengan budaya spiritual senantiasa memastikan terciptanya kondisi saling percaya, adanya keterbukaan dan kejujuran. Salah satunya dalam bentuk pimpinan, manajer dan pegawai/ karyawan tidak takut untuk melakukan dan mengakui kesalahan.


Humanistic work practices. Jam kerja yang fleksibel, penghargaan berdasarkan kerja tim, mempersempit perbedaan status dan imbal jasa, adanya jaminan terhadap hak-hak individu pekerja, kemampuan karyawan dan keamanan kerja merupakan bentuk-bentuk praktik manajemen sumber daya insani yang bersifat spiritual.


Toleration of employee expression. Organisasi dengan budaya spiritual memiliki toleransi yang tinggi terhadap bentuk-bentuk ekspresi emosi karyawan. Humor, spontanitas, keceriaan di tempat kerja tidak dibatasi. Saat ini sudah cukup banyak organisasi/ perusahaan yang menerapkan budaya spiritualitas di tempat kerja.


Bahkan, ada organisasi/lembaga/perusahaan yang mendorong dan mengizinkan setiap pegawai/karyawan untuk menyediakan satu persen dari waktu kerjanya untuk melakukan pekerjaan sukarela bagi pengembangan komunitas, seperti: membagikan makanan kepada para tunawisma, kerja bakti membersihkan taman umum, mendirikan perpustakaan atau rumah baca untuk anak-anak jalanan dan memberi bantuan bagi korban bencana alam.


Dengan terbentuknya budaya spiritualitas di tempat kerja, diharapkan akan terbentuk karyawan yang happy, tahu dan mampu memenuhi tujuan hidup. Karyawan yang demikian umumnya memiliki hidup yang seimbang antara kerja dan pribadi, antara tugas dan pelayanan.Pada umumnya, mereka juga memiliki kinerja yang lebih tinggi. Hasil penelitian yang dilakukan sebuah perusahaan konsultan besar, penerapan lingkungan kerja yang spiritual meningkatkan produktivitas dan menurunkan turn over.


Studi lainnya menunjukkan, karyawan yang kecerdasan spiritualnya tinggi dan didukung lingkungan kerja yang juga spiritual, secara positif menjadi lebih kreatif, memiliki kepuasan kerja yang tinggi, mampu bekerja dengan baik secara tim dan memiliki komitmen yang tinggi terhadap organisasi.


Dari rekam jejak prilaku manusia, dari berbagai sumber sejarah, kitab suci, hadits dan periwayatan, kita mengetahui bahwa Ritual Puasa telah memiliki sejarah yang sangat tua dengan pemaknaan yang begitu kaya dalam membangun spritualitas, kinerja, etika, budaya, social, bahkan sprit politik sekalipun.


Dalam konteks puasa dan korelasinya dengan kinerja Kementerian Agama setidaknya ada lima spirit puasa akan terlahir dalam membangun kinerja dan etos kerja Kementerian ;


Pertama, Puasa membangun hubungan spiritual yang erat antara manusia terhadap Allah. Sehingga sebagai karyawan memiliki kedekatan ketuhanan yang terpatri dalam jiwa dan semangat ta’abbud dalam ranah pekerjaan bersungguh-sungguh dalam peningkatan produktivitas kerja, hatta pada bulan Ramadhan sekalipun;


Kedua, spirit puasa menjadikan manusia menjaga hubungan yang harmonis, selaras dan serasi dengan relasi kerjanya. Baik antara bawahan dengan atasan, maupun antar unit kerja baik secara struktulal maupun secara kultural. Bukankah dalam prilaku puasa seperangkat nilai-nilai kebersamaan, semangat berjamaah, rasa empati menjadi tatanilai pembaruan dalam budaya ramadhan kita.


Ketiga, spirit puasa memberikan inspirasi kehati-hatian. Bahwa sesuatu yang halal saja kita dilatih untuk berupaya dalam tata kendali terukur. Ada azas-azas kebaikan dan kepatutan di dalam budaya kerja maupun prosesnya sekalipun. Ada hak-hak yang sudah diatur dalam sebuah regulasi dan kebijakan teknis kita bekerja. Bahkan konsep berkah menjadi cita-cita yang niscaya bagi kesejahteraan pegawai kita, apapun pangkat dan jabatannya.


Keempat, spirit puasa melahirkan manusia pada level saling menghormati, toleransi dan menyanyangi antar makhluk sebagai pencipta dari Tuhan semesta. Nuansa kasih sayang tidak dapat hanya dibatasi oleh eselonisasi, pangkat dan status social bahkan agama seorang pegawai. Semua adalah makhluk Tuhan yang telah melakukan tugas dan fungsinya secara kodrati. Semua staf, karyawan menjadi emas dan permata bagi seorang pemimpin yang dengan leadhersip skillnya menjadi pengampu yang transformational tetapi juga transaksional dalam bingkai rahmatallil’alamin.


Dan ke lima ; Puasa selalu dimulai dengan niat . Jadi nilai suatu bentuk pekerjaan, bukan hanya dilihat dari kinerja produktivitas, melainkan juga harus dilihat secara holistik dan filosofis dalam niat kebaikan atau keburukan. Pada bulan Ramadhan semua ibadah akan dilipat gandakan pahalanya. Makanya karena nilai ibadahnya tinggi, sudah pasti setiap orang akan berlomba-lomba untuk beraktivitas dalam upaya meningkatkan produktivitas kerja yang baik. Bagi yang memahami bulan yang penuh rahmat ini tentu akan meningkatkan berbagai aktivitas (ibadah), dan tentu berusaha untuk mereduksi aktivitas-aktivitas yang memiliki unsur maksiat. Supaya puasa yang dijalani diterima Allah Swt.


Keenam, spirit puasa meningkatnya profesionalisme, budaya kerja dan pemimpin perubahan. Profesionalisme di awali dengan kedekatan seorang dengan tupoksi dan ilmu jiwa admistrasinya. Ia memulai bekerja dengan cita rasa rindu, sedikit “cemburu” dan bahkan dalam racikan nuansa cinta disetiap pekerjaan yang di embannya. Semangat profesi mengalahkan subjektivitas dan kelompoknya. Inilah barangkali sebagian makna filoshofis dan spiritual puasa dalam kaitannya dengan kinerja kementerian agama. Tentu masih banyak pemaknaan puasa yang perlu dielaborasi dan ditadabburi sebagai inspiratory dan radar spiritual memaknai kerja dan pekerjaan kita sebagai pegawai negeri sipil dan sebagai khalifatu fil ardh. (Wallahu’alam).


 



  • Oleh; H. Suriansyah Hanafi

  • Kabid PHU Kanwil Kemenag Prov. Kalimantan Timur