Manifestasi Tunjangan Kinerja dalam Implementasi Budaya Kerja Kantor Kementerian Agama Kota Tarakan

Monday, 24 Oct 2016, 03:57       Dibaca 434 kali


 


Tukin akronim dari Tunjangan Kinerja, akhir-akhir ini menjadi idiom baru dan akrab dikalangan Pegawai Negeri Sipil (PNS) tidak terkecuali PNS di lingkungan Kantor Kementerian Agama Kota Tarakan. Frasa Tukin menjadi populer hingga mengeliminir kata remunerasi yang menjadi trending topik sejak program reformasi birokrasi digulirkan pemerintah. Remunerasi atau tunjangan kinerja sebagai salah satu turunan dari desain reformasi birokrasi di lingkungan Kementerian Agama tahapan programnya berjalan simultan, setelah Kementerian Agama dianggap memenuhi segala sesuatu yang dipersyaratkan sehingga pada akhirnya berhak menerima tunjangan kinerja atau remunerasi.


Sejak terbitnya Peraturan Presiden Nomor 108 Tahun 2014 tanggal 17 September 2014 tentang Tunjangan Kinerja Kementerian Agama. Dalam Perpres pasal 2 tersebut dinyatakan bahwa “ pegawai yang mempunyai jabatan di lingkungan Kementerian Agama, selain diberikan tunjangan penghasilan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan, diberikan tunjangan kinerja setiap bulannya. Perpres ini dikukuhkan dengan terbitnya Peraturan Menteri Keuangan Nomor SR.583/MK/02/2014 tentang Persetujuan prinsip Pemberian Tunjangan Kinerja dalam rangka pelaksanaan Reformasi Birokrasi bagi pegawai di lingkungan Kementerian Agama. Selanjutnya proses tersebut ditindaklanjuti dengan terbitnya Peraturan Menteri Agama (PMA) Nomor 49 Tahun 2014 tentang Pemberian, Penambahan dan Pengurangan Tunjangan Kinerja PNS di lingkungan Kantor Kementerian Agama dan teknis tata cara pembayaran tunjangan kinerja pada Kementerian Agama dijabarkan dalam Surat Keputusan Sekretaris Jenderal Kementerian Agama Nomor 13 Tahun 2014. Ada yang menjadi penekanan dari semua peraturan yang dijadikan dasar pembayaran Tukin baik Perpres, PMK maupun PMA yaitu pembayaran Tukin dengan memperhitungkan Kinerja yang ditunjukan dan dihasilkan oleh pegawai yang bersangkutan.


Ketentuan jam kerja datang dan pulang saat ini menjadi parameter seorang pegawai menerima jumlah besaran Tukin yang akan diterimanya. Teknologi absensi elektronik ( finger print ) saat ini menjadi perangkat sakti yang merekam jejak kehadiran seorang pegawai dari jam, menit hingga bilangan detiknya. Bila tidak “dinakali/dicurangi” sistemnya seorang pegawai tidak bisa mengelak dari pelanggaran jam kerjanya, dan ia harus pasrah dan ikhlas menerima konsekuensi atas keterlambatannya dengan pemotongan tunjangan kinerja yang diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan maupun Peraturan Menteri Agama. Bagi PNS yang memiliki kesadaran terhadap tugas dan statusnya sebagai abdi Negara, ketentuan yang mengatur jadual kehadiran di kantor adalah perangkat aturan yang dipedomani sebagai sebuah teks yang mengikat. Artinya ia berjalan pada komitmennya sebagai abdi Negara. Namun bagi pegawai yang dulunya biasa “menitipkan” tanda tangan absen kepada teman sejawatnya, ketentuan dan pengaturan ketat absensi memicu schock Culture, ada serapah dan keluhan karena ia harus membiasakan dengan pola baru dan beradaptasi dengan perubahan ini dan harus mengerahkan semua kemampuannya ini untuk meninggalkan habit lamanya yaitu habit malas dan santai.


5 Nilai Budaya Kerja sebagai Pondasi


Kementerian Agama telah merumuskan lima nilai budaya kerja, yaitu integritas, profesionalitas, inovatif, tanggung jawab, dan keteladanan. Kelima nilai budaya kerja ini dijadikan pondasi yang kokoh sekaligus menjadi ruh dan jiwa yang menyemangati seluruh aparatur Kementerian Agama dalam memberikan layanan kepada seluruh masyarakat. Secara simbolis, pin kelima nilai budaya kerja ini disematkan kepada seluruh aparatur Kementerian Agama pada Peringatan Hari Amal Bhakti Kementerian Agama yang ke-69. Penyematan ini menandai komitmen bersama gerakan revolusi mental aparatur dalam kerangka reformasi birokrasi berpondasikan nilai-nilai integritas, profesionalitas inovatif, tanggung jawab dan keteladanan. Kelima nilai tersebut pada hakikatnya bukanlah hal baru karena merupakan nilai yang sudah hidup dalam setiap ajaran agama. Ajaran agama apapun di negeri ini mengajarkan tentang kelima nilai tersebut. Namun tidak dipungkiri bahwa pada realitasnya tidak jarang nilai-nilai yang ada terkontaminasi oleh hawa nafsu internal dan godaan-godaan ekternal.


Sebagai pondasi, nilai budaya kerja menempati posisi penting dalam pencapaian Visi dan Misi Kementerian Agama. Sebab, kalau misi merupakan tujuan dan alasan keberadaan suatu organisasi , dan visi adalah pandangan jauh ke depan tentang organisasi atau impian yang ingin dicapai, maka nilai mencerminkan ruh dan jiwa yang melandasi tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh anggota organisasi dalam melaksanakan misi untuk mecapai visi.


Implementasi 5 Nilai Budaya Kerja Kementerian Agama


Dengan adanya Tukin diharapkan dapat memacu dan memicu dalam mengimplementasikan lima budaya kerja pada Kementerian Agama Kota Tarakan. Pemberian Tukin berupa penambahan penghasilan kepada seorang pegawai, yang artinya kesejahteraan pegawai diharapkan lebih meningkat dari sebelumnya. Sejatinya pemberian Tukin sejalan dengan peningkatan kinerja dan dapat impelemtasi nilai-nilai budaya kerja yaitu:


Pertama, Integritas: Seorang pegawai yang memiliki integritas adalah pegawai yang memiliki keselarasan antara hati, pikiran, perkataan dan perbuatan yang baik dan benar. Indikasi orang yang memiliki inetgritas adalah memiliki tekad dan kemauan untuk berbuat baik dan benar, berfikiran positif, arif, dan bijaksana dalam melaksanakan tugas dan fungsi, mematuhi peraturan perundang-undangan yang berlaku dan menolak korupsi, suap dan gratifikasi. Dengan menerima Tukin seorang pegawai Kementerian Agama tidak lagi berfikir untuk memperoleh penghasilan dari sesuatu yang tidak halal dan senantiasa berlaku jujur. Pengawasan melekat dan pembentukan Satgas Pengendali Gratifikasi adalah salah satu upaya yang ditempuh untuk menegakan budya integritas pada Kementerian Agama.


Kedua, Profesionalitas: Seorang yang profesional adalah pegawai yang bekerja secara disiplin, kompeten, dan tepat waktu dengan hasil terbaik. Indikator seorang profesional adalah melakukan pekerjaan sesuai dengan kompetensi jabatan, melakukan pekerjaan secara terukur, melaksanakan tugas tepat waktu dan menerima reward and punishment sesuai dengan ketentuan. Salah satu persyaratan menerima Tukin adalah bagi pegawai yang memiliki jabatan baik jabatan struktural, jabatan fungsional umum maupun jabatan fungsional tertentu. Bagi pegawai yang tidak memiliki jabatan sesuai dengan ketentuan maka ia tidak bisa menerima Tukin. Itu artinya pegawai yang dianggap telah professional yang berhak menerima Tukin. Dengan adanya Tukin diharapkan profesionalitas aparatur Kementerian Agama dapat meningkat dan membudaya dalam lingkungan kerja.


Ketiga, Inovasi: Definisi inovasi adalah menyempurnakan yang sudah ada dan mengkreasi hal baru yang lebih baik. Indikator pegawai yang memiliki jiwa inovasi adalah selalu melakukan penyempurnaan dan perbaikan berkala dan berkelanjutan, bersikap terbuka dan menerima ide-ide baru yang konstruktif, meningkatkan kompetensi dan kapasitas pribadi, berani mengambil terobosan dan solusi dalam memecahkan masalah serta memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi dalam bekerja secara efektif dan efisien.


Keempat, Tanggung Jawab: Bekerja secara tuntas dan konsekuen. Pada saat memperingati HAB Kementerian Agama RI ke 67, Motto bekerja keras, bekerja cerdas, bekerja tuntas dan bekerja ikhlas nampaknya patut digaungkan kembali dalam rangka meningkatkan kinerja Kementerian Agama. Seorang pegawai yang bertanggung jawab diindakasikan sebagai pegawai yang menyelesaikan pekerjaan dengan baik tepat waktu, berani mengakui kesalahan, bersedia menerima konsekuensi dan melakukan langkah-langkah perbaikan, mengatasi masalah dengan segera dan komitmen dengan tugas yang diberikan. Dengan pemberian Tukin diharapkan pegawai Kementerian Agama memiliki tanggung jawab yang tinggi sebagai abdi Negara dan abdi Masyarakat dalam memberikan pelayanan pada berbagai aspek dan sendi kehidupan.


Kelima, Keteladanan: Menjadi contoh yang baik bagi orang lain. Sosok aparatur Kementerian Agama sering diibaratkan kertas putih bersih yang apabila ternoda sedikit saja akan jelas kelihatan. Itu artinya espektasi masyarakat terhadap aparatur Kementerian Agama sangat tinggi. Maka diharapkan aparatur Kementerian Agama menjadi teladan bagi masyarakat disekitarnya. Diantara indikator seorang menjadi teladan yang baik adalah berakhlak terpuji, memberikan pelayanan dengan sikap yang baik, penuh keramahan, adil, membimbing dan memberikan arahan kepada bahawan serta teman sejawat dan melakukan pekerjaan yang baik dimulai dari diri sendiri. Tambahan penghasilan berupa Tukin yang diterima sejatinya tidak malah menjadi seorang pegawai Kementerian Agama menjadi sombong dan congkak malah sebaliknya seharusnya tingkat kesyukurannya menjadi meningkat dan menggunakan kenikmatan yang diperolehnya untuk kebaikan dan peduli terhadap sesama.


Untuk lebih menginternalisasi lima budaya kerja kepada semua aparatur ini, Kementerian Agama diharapkan melakukan pelatihan-pelatihan agar pengetahuan tentang lima budaya kerja ini mengejawantah dan teraplikasi dalam sikap, prilaku, tindakan, bahkan sejak dalam pemikiran. Selain itu juga harus ditopang oleh sistem yang baik untuk memastikan semua nilai-nilai yang dirumuskan dapat berjalan dengan baik dan benar.


 



  • Oleh; Drs. H. Imam Mohtar, M.Pd

  • Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Tarakan