Kesiapan KUA Merealisasikan 5 Nilai Budaya Kerja Kementerian Agama dalam Berkiprah di Masyarakat

Monday, 24 Oct 2016, 04:03       Dibaca 657 kali


“Negara berbuat kesalahan karena telah melakukan pembiaran terhadap nasib Kantor Urusan Agama (KUA) sehingga kementerian itu dikesankan sebagai institusi terkorup”. Inilah curhatan hati mantan Sekjen Kementerian Agama Bahrul Hayat sekaligus suatu pembelaan beliau terhadap KUA ketika ramai masalah Gratifikasi terhadap petugas-petugas KUA.


Masalah tersebut membuat para petinggi di Kementerian Agama mengerahkan energinya untuk memperbaikinya sekaligus menjawab tantangan tersebut, bahkan seluruh elemen KUA dengan di pelopori wilayah Jawa membentuk Asosiasi Penghulu Republik Indonesia untuk membentu mewujudkan cita-cita Kementerian Agama bahkan Adib Machrus selaku Kabid Pemberdayaan Penghulu dan KUA menyatakan bahwa tahun 2014 adalah tahun KUA dimana seluruh energy dicurahkan ke sana.


Lahirnya PP Nomor 48 tahun 2014 beserta aturan aturan penunjangnya mengganti PP 47 tahun 2004 telah membawa perubahan bagi KUA sekaligus tantangan walaupun diakui masih belum maksimal dalam realisasinya. Tantangan yang dimaksud adalah dengan kembalinya perhatian Negara terhadap KUA, maka KUA diminta untuk siap merealisaikan 5 Nilai Budaya Kerja Kementerian Agama yaitu Integritas, Profesionalitas, Inovasi, Tanggungjawab dan Keteladanan dalam berkiprah di Masyarakat.


KH. Toto Tasmara dalam bukunya membudayakan etos kerja islami mengartikan Budaya Kerja dalam Islam berarti Mengaktualisasikan seluruh potensi Iman, Pikir dan Zikir, serta keilmuan kita untuk memberikan nilai kebahagiaan bagi alam semesta. Kita harus mampu menunjukkan kepada dunia bahwa Islam yang kita yakini benar, tercermin dari perilaku budaya kita yang memberikan nilai tambah bagi lingkungan di sekitar.


5 Nilai budaya kerja Kementerian Agama dalam prespektif Kantor Urusan Agama (KUA)


Integritas; Kalau kita membuka kamus bahasa Inggris Indonesia setidak ada 3 arti yang dapat penulis maknai yaitu; pertama menyatu-padukan (bersatu), kedua Ketulusan hati dan ketiga adalah Kejujuran. DR. Henry Cloud (PT. Gramedia Pustaka Utama, 2006) mendefinisikan Integritas adalah Karakter, etika dan Moral. Dari pengertian tersebut kita dapat membuat konsep sederhana bahwa untuk menjawab tantangan terhadap citra negative yang sempat di torehkan kepada KUA, maka kedepan seluruh SDM yang ada di KUA siap bersatu padu membangun karakter yang baik, kuat dan kokoh dengan di landasi etika dan moral yaitu ketulusan hati (tanpa pamrih) serta kejujuran dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.


Dengan berbagai keterbatasan porsenil di KUA yang tidak sebanding dengan amanah yang di embannya maka KUA harus memiliki team work untuk membangun sebuah konstruksi yang kokoh serta konsistensi internal. Artinya siapapun pribadi yang ditempatkan di KUA, maka berusahalah memiliki sifat jujur, punya prinsip moral yang kuat sehingga mampu menjaga segala aturan-aturan secara konsisten.


Setidaknya ada 6 kriteria menumbuhkan Integritas yang berhasil:



  1. Kemampuan terhubung secara outentik (mengarah pada rasa percaya/kepercayaan).

  2. Kemampuan berorientasi pada kebenaran (mengarah penemuan kenyataan dan bekerja sesuai kenyataan/aturan)

  3. Kemampuan bekerja dengan cara yang menghasilkan dan selesai dengan baik (mengarah pencapaian sasaran, atau misi)

  4. Kemampuan merangkul, terlibat, dan menghadapi hal negatif. (mengarah penyelesaian atau perubahan masalah)

  5. Kemampuan untuk berorientasi pada pertumbuhan (mengarah pada peningkatan)

  6. Kemampuan untuk menjadi transenden. (mengarah perluasan gambaran yang lebih besar dan diri sendiri)


 


Jika orang mampu berfungsi dengan baik dalam semua area itu, mereka pasti akan meninggalkan jejak yang baik. (DR. Henry Cloud).


ke enam poin di atas mengingatkan penulis kepada salah satu prinsip suku Banjar yang sering penulis dengar dari bapak Alm KH. Asnawi Arbain (mantan Walikota Balikpapan) yaitu : “Membawa Bujur dan Banar”. Dalam dunia pekerjaan, ini bermakna bekerjalah dengan baik dan benar. Baik saja tidak cukup jika harus melanggar aturan (kebenaran) demikian pula sebaliknya.


Maka diharapkan kepada seluruh pribadi di KUA dapat merealisasikan nilai budaya bekerja yang menjunjung prinsip bekerja dengan baik, benar, serta ketulusan hati (tanpa pamrih).dan inilah karaktek dasar Kementerian Agama yaitu Ikhlas Beramal.


Profesionalitas; Terdapat dalam Hadis dari Abu Hurairah ra. berkata: Pada suatu ketika Nabi saw. dalam sesuatu majelis, sedang memberikan pembicaraan kepada kaum yakni orang banyak, lalu datanglah seorang A'rab yaitu penduduk negeri Arab bagian pedalaman, kemudian orang ini bertanya: Bilakah tibanya hari kiamat. Rasulullah saw. terus saja dalam berbicara itu, sehingga sementara kaum ada yang berkata: Beliau saw. sebenarnya mendengar ucapan orang itu, tetapi beliau benci kepada isi pembicaraannya. Sementara kaum lagi berkata: Ah, Beliau saw. tidak mendengarnya. Selanjutnya setelah Beliau saw. selesai pembicaraannya lalu bertanya: Manakah orang yang menanyakan tentang hari kiamat tadi? Orang itu berkata: Aku, ya Rasulullah. Beliau saw. Bersabda: Jika kepercayaan telah diabaikan, maka kiamat tidak akan lama lagi. Orang badui bertanya lagi: Bagaimana kepercayaan itu diabaikan? Beliau menjawab: Jika suatu urusan diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya, maka tunggulah, kiamat tidak akan lama lagi. (HR al-Bukhari).


Penulis sengaja mempertebal tulisan Kepercayaan dan Ahlinya. Kepercayaan adalah bagian terdepan dari keberhasilan membangun integritas dalam lingkungan Kementerian Agama khususnya KUA. Akan tetapi dari hadis Nabi SAW di atas diterangkan bahwa kepercayaan itu akan diabaikan karena diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya. Keahlian atau tenaga ahli itulah makna dari Propesionalitas yang merupakan bagian dari 5 nilai budaya kerja Kementerian Agama.


Mantan sekjen Kemenag Bahrul Hayat mengibaratkan Integritas itu adalah iman dan profesionalitas itu ibarat ilmu. Apabila pekerjaan dikerjakan oleh orang professional tapi tidak punya integritas maka akan hancur. Kalau pekerjaan dilakukan dengan integritas semata tanpa professional makan akan jalan di tempat (Majalah Al-Ikhlas). Masalah terbesar KUA saat ini khususnya di Kalimantan Timur adalah minimnya tenaga-tenaga professional tersebut. Kantor Urusan Agama (KUA) sejatinya adalah Miniatur Kementerian Agama di tingkat Kecamatan yang artinya sebagian dari fungsi-fungsi Kementerian Agama Kab/Kota dimulai dari KUA Kecamatan KUA tidak hanya urusan pernikahan akan tetapi juga perwakafan, Kemasjidan, Zakat dan Waqaf, Haji, MTQ, Penyuluhan Agama bahkan sampai hal-hal terkecil yang terjadi di masyarakat yang kesemuanya sejatinya harus ditangani secara professional.


Tidak dapat dipungkiri, kenyataannya KUA sampai saat ini masih berkutat urusan penikahan. Tenaga ahli yang ada di KUA pun masih masalah pernikahan, belum sampai kepada bagaimana manajemen pemberdayaan wakaf, masjid dan lainnya dengan baik. Akan tetapi kita tidak boleh menyerah, karenanya menghayati dan mengimplementasikan nilai-nilai integritas dalam setiap pekerjaan menjadi sesuatu yang harus digali dan ditumbuhkan dengan jalan membangun team work yang bukan hanya tepaku kepada satu KUA Kecamatan saja tetapi seluruh KUA Kecamatan menjadi team work untuk melahirkan tenaga-tenaga professional.


Inovasi; Inovasi menurut penulis mirip dengan istilah kreatifitas. Salah satu tipe orang kreatif yang ingin penulis ceritakan adalah “Soichiro Honda”. Sejak kecil, dia segera ke bengkel. Menurutnya, bunyi mesin dan bau minyak bakar terasa seperti sesuatu yang nikmat bagi dirinya. Daya imajinasinya telah melahirkan berbagai inovasi/keratifitas, misalnya ketika Jepang dalam kesulitan ekonomi, dia menangkap peluang dengan memproduksi sepeda bermotor. Ketika dia beranjak dengan industri mobilnya, dia dilecehkan bahwa mobilnya lambat dan kalah oleh mobil buatan Eropa. Keinginannya menjadi lebih baik mendorong dirinya berangkat ke Eropa, BELAJAR! Pada saat pulang ke negerinya, Honda membeli mobil Eropa, kemudian dipretelinya, dipelajarinya, dan kemudian dia menciptakan mobil yang hemat energy, cepat, dan tetap trendi. Industrinya bahkan semakin berkembang setelah mobil produksinya memenangkan sebuah perlombaan bergengsi.


Sejatinya spirit Soichiro Honda itu tumbuh dalam diri para aparatur KUA yaitu pribadi yang selalu ingin mencoba metode atau gagasan baru, sehingga diharapkannya hasil kinerja dapat dilaksanakan secara efisien, tetapi efektif. Senantiasa mencoba metode atau gagasan baru untuk memberikan pelayanan, informasi, data yang setiap hari semakin baik, semakin lengkap dan semakin akurat yang dalam istilah agama hari ini harus lebih baik dari hari kemarin (Pelayanan Hari Ini Harus Lebih Baik dari Pelayanan Kemarin, Informasi Hari Ini Harus Lebih Lengkap dari Informasi Hari Kemarin, Data Hari ini Harus Lebih Akurat dari Data Hari Kemarin).


Goldman merangkum cirri-ciri orang-orang yang inovatif/kreatif dengan istilah Star Performer antara lain:


Kuatnya motivasi untuk berprestasi: sangat bergairah untuk meningkatkan dan memenuhi standar keunggulan, menetapkan sasaran kinerja yang menantang dan berani mengambil resiko yang diperhitungkan, mencari informasi sebanyak-banyaknya guna mengurangi ketidakpastian dan mencari jalan yang terbaik, tekun belajar untuk meningkatkan kinerjanya.


Komitmen: Setia kepada visi dan sasaran tempat dia bekerja


Inisiatif dan Optimisme: Pegawai yang memiliki kekuatan Inisiatif, ia siap memanfaatkan peluang mengejar sasaran lebih daripada yang dipersyaratkan, sedangkan pegawai yang optimis menunjukkan sikap yang tekun dalam mengejar sasaran kendati banyak halangan. Bekerja dengan harapan untuk sukses, bukannya takut gagal.


Sebuah Inovasi yang lahir dari KUA se Indonesia yaitu dengan adanya SIMKAH (Sistem Manajemen Pernikahan) yang merupakan cikal bakal lahirnya SIMBI (Sistem Informasi Manajemen Bimas Islam) seperti SIWAK, SIMAS dll mesti harus di kuasai oleh seluruh pegawai di KUA dan BIMAS sehingga inovasi ini mampu meningkatkan mutu layanan KUA menjadi lebih baik.


Tanggungjawab;


Tanggung Jawab = menanggung dan member jawaban, sebagaiman di dalam bahasa Inggris, kita mengenal Responsibility = able to response. Di dalam pengertian agama tanggung jawab itu sam dengan Amanah.


Amanah adalah titipan yang menjadi tanggungan. KH. Toto Tasmara mendifinisikan tindakan tanggung bertanggung jawab itu adalah sikap dan tindakan seseorang di dalam menerima sesuatu sebagai amanah; dengan penuh rasa cinta, ia ingin menunaikannya dalam bentuk pilihan-pilihan yang melahirkan amal prestatif.


Dari difinisi beliau dapat kita maknai dalam dunia pekerjaan seperti di Kantor Urusan Agama adalah segala jenis pekerjaan yang ada baik itu pernikahan, perwakafan, kemasjidan dan lain sebagainya, semuanya itu adalah amanah atau titipan yang menjadi tanggungan yang harus di jawab oleh semua pribadi di Kantor dengan cara menunaikannya dalam bentuk pilihan-pilihan atau inovasi yang berujung kepada lahirnya amal prestatif atau mutu pelayanan yang membahagiakan orang lain.


Seluruh elemen di KUA mesti mempersepsikan setiap pekerjaannya sebagai amanah yang harus ditunaikan penuh kesungguhan, yang kemudian melahirkan keyakinan yang mendalam bahwa Bekerja itu Ibadah dan Berprestasi itu Indah. Menunaikan amanah dengan sebaik-baiknya merupakan cirri seorang professional.


Keteladan; Terdapat hadis dalam shahih bukhari no.2262 bahwa: Abu Hurairah r.a. menyampaikan bahwa Rasulullah SAW bersabda; “Allah tidak mengutus seorang Nabi melainkan ia adalah seorang penggembala kambing.” Para sahabat bertanya, “Apakah engkau pernah melakukan hal yang sama?’ Beliau menjawab, “Ya, saya dulu pernah menajdi penggembala kambing penduduk Makkah dengan upah beberapa qirat.”


Salah satu krisis terbesar dunia saat ini adalah krisis keteladanan. Akibat yang ditimbulkan oleh krisis ini jauh lebih dahsyat dari krisis energy, kesehatan, pangan, transportasi dan air. Semakin hari biaya pelayanan semakin sulit terjangkau (Dr. Muhammad Syafii Antonio, M. Ec; Muhammad Saw The Super Leader Super Manager).


Hadis Nabi SAW di atas merupakan hadis yang inspiratif yang mampu mengajarkan kepada kita bagaimana seharusnya menjadi seorang pemimpin, staf, dan lain sebagainya. Keteladan tidak tumbuh dari tipikal orang yang terima jadi, tinggal masaknya aja dan lain sebaiknya. Tetapi keteladan lahir dari kemampuan mengambil peran dalam segala aspek pekerjaan. Keteladanan bukan hanya berarti kemampuan mengambil posisi tetapi juga sekaligus memaimkan peran sehingga kehadiran dirinya memberikan pengaruh pada lingkungannya.


Kantor Urusan Agama memiliki amanah yang sangat berat yaitu mampu memberi keteladanan kepada masyarakat. KUA tidak boleh hanya sekedar mengambil posisi sebagai lembaga yang diperlukan umat tetapi juga mampu memainkan peran dan fungsinya secara aktif.


Dalam lingkup internal KUA, misalnya seorang kepala KUA yang tidak lain juga selaku PPAIW meminta atau memerintahkan kepada stafnya untuk menyelesaikan surat-menyurat perwakafan, ketika stafnya mengalami kesulitan kemudian bertanya kepada atasan lalu kemudian atasan menjawab tidak tahu karena atasannya dulu tidak pernah mengurusi masalah perwakafan, sudah barang tentu ini bukanlah teladan yang baik. Coba perhatikan hadis di atas. Keteladana bukan hanya milik atasan saja tetapi keteladan milik setiap individu. Di KUA semua individu harus beperan aktif karena dia sadar bahwa seluruh hidupnya akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah.


Kesimpulan


Dalam rangka merealisaikan 5 Nilai Budaya Kerja dilingkungan KUA maka:


Seluruh Individu di KUA harus bersatu menanmkan dan membetuk karakter/integritas yang diukur dengan bekerja dengan baik, benar, dengan Ketulusan hati serta Kejujuran.


Ditengah minimnya personil di KUA hendaknya setiap KUA mampu memotivasi dirinya untuk tekun belajar dalam rangka meningkatkan dirinya sebagi seorang yang professional di berbagai jenis pekerjaan.


Terus berinovasi dalam memberikan pelayanan yang terbaik, informasi yang lengkap dan data yang akurat setiap hari sebagaiman prinsip hari ini harus lebih baik dari hari kemarin.


Bekerja dengan semangat (rasa cinta) dan berorientasi kepada prestasi sebagai bentuk tanggung jawab.


Senantiasa berperan aktif di masyarakat untuk menumbuhkan keteladanan sekaligus mengasah responsibility atau kemampuan merespon asrpirasi umat..



  • Oleh: Masrivani, S. Ag

  • Kepala KUA Kecamatan Balikpapan Barat