Bermandi Keringat di Tengah Danau Demi Menggapai Asa ke Tanah Haram

Selasa, 14 Juli 2020 | 13:27       Dibaca 115 kali


Makkah dan sekitarnya kerap kali disebut sebagai Tanah haram, yang bermakna sebagai zona khusus yang hanya boleh diakses oleh umat Islam. Dalam al Misbah al Munir menyatakan bahwa “Tanah haram artinya tanah yang tidak halal untuk dilanggar. Syeikh Muhammad bin Abbas al Maliki al Hasani dalam Fi Rihab al Bait al Haram (1985) menjelaskan penyebutan Makkah sebagai Tanah Haram ditandai dengan turunnya QS At Taubah: 28 yang diturunkan pada tahun keenam Hijriah. Ayat tersebut menjelaskan pemberlakuan batas pemisah berdasarkan keimanan seseorang demi menjaga kesucian dan kemuliaan Masjidil Haram. Makkah sebagai kota suci bagi umat Islam memiliki keistimewaan, karena disana terdapat Ka’bah yang sering disebut dengan Baitullah merupakan bangunan berbentuk kubus sebagai monumen suci yang menjadi patokan arah kiblat untuk ibadah shalat bagi umat Islam diseluruh dunia.


Magnet Baitullah inilah yang mengantar saya hingga sampai ke Desa Jantur Kecamatan Muara Muntai, sebagai 3 wilayah Kabupaten Kutai Kartanegara. Perjalanan menuju Desa Jantur memakan waktu yang cukup lama, karena jaraknya cukup jauh dari Kota Samarinda. Sebenarnya Desa Jantur sebagai tempat terakhir yang akan kami kunjungi setelah Muara Muntai. Perjalanan kami menuju kedua desa tersebut dalam rangka melaksanakan Sosialisasi KMA Nomor 494 Tahun 2020 tentang Pembatalan Keberangkatan Jamaah Haji pada Penyelenggaraan Ibadah Haji Tahun 1441 H/2020 M. Keputusan Pemerintah melalui Menteri Agama untuk membatalkan pemberangkatan haji tahun ini memang membuat sebagian jamaah sebagai berita duka yang sangat mengejutkan, apa lagi saat mereka sedang mempersiapkan diri untuk segera menjadi tamu Allah yang tinggal menunggu hitungan hari setelah sekian lama menunggu saat itu datang.


Tulisan selengkapnya bisa diunduh melalui link di bawah ini:


https://rupawan.kemenag.go.id/s/zJKFaBBhwSjfJ73


Baca Juga

Opini Terpopuler